BAHASA KASIH

21 February 2006

(more…)

Api

Metafora Kehidupan

Pernahkah Anda bermain api, sengaja atau tak sengaja, lantas —tanpa Anda kehendaki— kebakaran terjadi. Mungkin menimpa sebagian kulit Anda, mungkin pakaian Anda, atau bahkan mungkin rumah dan lingkungan tetangga Anda? “Api’ di situ bisa kita jadikan metafor dari bermacam-macam hal. Mungkin kesehatan kita, mungkin kehidupan rumah tangga kita, mungkin juga situasi-situasi yang menyangkut bangsa, negara, pembangunan dan lain sebagainya.

Dalam hal yang terakhir inilah dengan segala cinta dan ketulusan saya ingin mengemukakan kepada Anda: mulai hari ini hendaknya kita mulai berbenah-benah untuk menjaga sebaik-baiknya segala hal yang penting bagi hidup kita.
Apa hal-hal yang penting itu? Mungkin kepribadian, mungkin keselamatan hidup, mungkin harta benda dan uang, mungkin kerukunan keluarga, mungkin posisi dalam pekerjaan, mungkin reputasi, atau yang mungkin lebih menyeluruh dari itu pada hari ini dan di hari-hari yang akan mendatangi kita.

Apakah maksudnya berbenah-benah dan menjaga itu semua? Ialah menyiapkan segala sesuatu yang bisa mengamankan semua itu dari berbagai kemungkinan yang bisa hadir menimpa kita semua. Berbagai kemungkinan yang bisa jadi merupakan `produksi’ dari perilaku kita semua bersama-sama sebagai sebuah masyarakat dan bangsa, atau ekses dari langkah-langkah para `raksasa’ yang
berakibat menimpa kita semua; yang para raksasa itu sendiri sekarang tidak sanggup mengatasi akibat-akibat yang mereka timbulkan sendiri. Bahasa jelasnya: kita menempuh hari-hari di hadapan kita sekarang ini hendaknya dengan kehati-hatian ekstra. Kalau tidak, mungkin ada sejumlah hal yang akan sirna dari kita, ada sesuatu yang hilang tanpa bisa kita temukan
lagi.

Kehati-hatian itu kita perlukan untuk memperkecil kemungkinan pengorbanan. Dan Anda silahkan mengartikan hal itu untuk bidang yang berbeda-beda, dari ekonomi sampai nyawa. Apakah sedemikian seramnya? Kita kompak untuk berdoa:”Jangan sampai
demikian, ya Tuhan! Selamatkanlah kami semua. Lindungilah. Bimbing dan pandulah langkah kami memasuki keremangan di depan kami…”

Kalau kita kembali ke metafor `api’ di atas. Maka dalam kehidupan kolektif nasional kita dewasa ini—ada sejumlah kebakaran yang bisa kita padamkan, namun ada tingkat kebakaran yang sudah tidak mungkin kita atasi. Kalau metafornya adalah kesehatan dan penyakit, maka ada penyakit-penyakit nasional-global manusia Indonesia yang masih bisa kita sembuhkan, namun ada banyak penyakit yang serius dan juga bersifat struktural maupun kultural yang sudah hampir mustahil kita obati.

Silahkan Anda berkonsultasi kepada para ekonom untuk menanyakan apa saja realitas perekonomian kita yang merupakan bumerang dan sangat sukar ditemukan cara mengubahnya. Bertanyalah kepada para sejarawan, pengamat sosial, pakar pilitik, budayawan dan ruhaniawan tentang—tentang betapa kebanyakan manusia Indonesia tidak menyadari betapa sesungguhnya sudah sangat dalam kita terperosok ke dalam jurang.

Realitas-realitas multi kompleks pada tataran horizontal maupun vertikal, sebagai suatu gejala kolektif maupun individual, sudah sedemikian terkurung dalam lingkaran-lingkaran setan. Cobalah Anda sesekali berkonsentrasi, tataplah asap mulai mengepul di permukaan jalanan di hadapan Anda.

Semoga api tidak tidak akan berkobar. Tapi retakan-retakan `gempa sosial’ yang selama ini masih tertutup di bawah permukaan, semakin hari semakin nongol ke atas. Kita sedang berada di wilayah hampir puncak dari kemungkinan benturan atau himpitan dan tindihan yang tak bisa lagi dieliminisasikan. Kita berharap jika ada `gempa’ hendaknya sekedar terjadi hanya di bagian atas `gunung’ : kehidupan sosial ekonomi dan sosial budaya tradisional kita di lapisan bawah semoga tidak usah terlalu terpengaruh. Saya wajib mengemukakan bahwa tingkat `penyakit’ kehidupan ada bermacam-macam. Ada yang bisa disembuhkan dan ada
yang hanya bisa diakhiri dengan kematian. Dan ini tidak terbatas pada soal-soal medis, melainkan juga pada sektor-sektor luas dalam kehidupan berbangsa kita. Selebihnya, saya tidak bisa menutupi suatu pengetahuan bahwa pihak yang paling berkuasapun tidak bisa mengatasi penyakit-penyakit itu. Apalagi saya dan Anda yang kecil ini.

Yâ Allâh hawwil hâlanâ ilâ ahsanil-hâl… Ya Tuhan uruskanlah urusan kami menjadi sebaik-baik urusan.
Saya tidak mengajak Anda untuk melakukan apapun kecuali untuk memulai suatu
kehati-hatian baru.[]

Sumber : “Jogja Indonesia Pulang Pergi”, Emha Ainun Nadjib, Zaituna, Jogja, Juli 1999.

Tahajud ku Tertinggal

Tahajud dalam 7 Hari

Hari per-1, tahajudku tertinggal
Dan aku begitu sibuk akan duniaku
Hingga zuhurku, kuselesaikan saat ashar mulai memanggil
Dan sorenya kulewati saja masjid yang mengumandangkan azan magrib
Dengan niat kulakukan bersama isya itupun terlaksana setelah acara tv selesai

Hari ke-2, tahajudku tertinggal lagi
Dan hal yang sama aku lakukan sebagaimana hari pertama

Hari ke-3 aku lalai lagi akan tahujudku
Temanku memberi hadiah novel best seller yang lebih dr 200 hlmn
Dalam waktu tidak sampai 1 hari aku telah selesai membacanya
Tapi… enggan sekali aku membaca Al-qur’an walau cuma 1 juzz
Al-qur’an yg 114 surat, hanya 1,2 surat yang kuhapal
itupun dengan terbata-bata
Tapi… ketika temanku bertanya ttg novel tadi betapa mudah dan lancarnya
aku menceritakan

Hari ke-4 kembali aku lalai lagi akan tahajudku
Sorenya aku datang ke selatan Jakarta dengan niat mengaji
Tapi kubiarkan ustazdku yang sedang mengajarkan kebaikan
Kubiarkan ustadzku yang sedang mengajarkan lebih luas tentang agamaku
Aku lebih suka mencari bahan obrolan dengan teman
yg ada disamping kiri & kananku
Padahal bada magrib tadi betapa sulitnya aku merangkai
Kata-kata untuk kupanjatkan saat berdoa

Hari ke-5 kembali aku lupa akan tahajudku
Kupilih shaf paling belakang dan aku mengeluh
saat imam sholat jum’at kelamaan bacaannya
Padahal betapa dekat jaraknya aku dengan televisi dan betapa nikmat,
serunya saat perpanjangan waktu sepak bola favoritku tadi malam

Hari ke-6 aku semakin lupa akan tahajudku
Kuhabiskan waktu di mall & bioskop bersama teman2ku
Demi memuaskan nafsu mata & perutku sampai puluhan ribu tak terasa keluar
Aku lupa.. waktu diperempatan lampu merah tadi
Saat wanita tua mengetuk kaca mobilku
Hanya uang dua ratus rupiah kuberikan itupun tanpa menoleh

Hari ke-7 bukan hanya tahajudku tapi shubuhkupun tertinggal
Aku bermalas2an ditempat tidurku menghabiskan waktu
Selang beberapa saat dihari ke-7 itu juga
Aku tersentak kaget mendengar khabar temanku kini
Telah terbungkus kain kafan padahal baru tadi malam aku bersamanya
dan malam tadi dia dengan misscallnya mengingatkan aku ttg tahajud

kematian kenapa aku baru gemetar mendengarnya?
Padahal dari dulu sayap2nya selalu mengelilingiku dan
Dia bisa hinggap kapanpun dia mau

25 tahun lebih aku lalai….
Dari hari ke hari, bulan dan tahun
Yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunah
Kurang mensyukuri walaupun KAU tak pernah meminta
Berkata kuno akan nasehat ke-2 orang tuaku
Padahal keringat & airmatanya telah terlanjur menetes demi aku

Tuhan andai ini merupakan satu titik hidayah
Walaupun imanku belum seujung kuku hitam
Aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang saat nanti tersisa
Tahajud dan sholatku meninggalkan bekas
Saat aku melipat sajadahku…..
———————————–

OUR ENGLISH TEACHERS

WHAT DO OUR ENGLISH TEACHERS DO WHEN THEY’RE NOT TEACHING?

“We all have the same twenty-four hours available to us in each day. Most of us spend eight hours working and eight hours sleeping. What you do with the remaining eight hours will have a tremendous influence on the level of success you achieve in your life.” Those are a few lines found in the amazing book Napoleon Hill’s Positive Action Plans, which suggest that we need to use our time productively in order to succeed in any endeavor in our life. In connection with the issue of English teachers’ professional development, the first thing to do is that we need to critically see how we spend our time when we are not teaching in class. After that, we compare what we normally do and what we want to professionally achieve and try to fill the gap between them. Professional development is about what we can do to fill the gap.

English teacher professionalism has been discussed in many ways, in many occasions by institutions directly connected to education. Workshops, seminars and other forums of discussions for the development of teacher professionalism have been conducted. The worries remain. Questions are most frequently expressed to reflect whether we have been professional in conducting the teaching job or not, whether we have gained professionalism to equip ourselves in making development in teaching world.

What is Professional Development?
Pham Hoa Hiep (2001) defines that teacher development is the process of life-long learning in the teaching profession, which involves any activities aiming to achieve personal and professional growth for teacher. Adapting from Pennington, Brown (2001) lists some major professional goals that teachers should address to grow professionally:
• a knowledge of the theoretical foundations of language learning and language teaching,
• the analytical skills necessary for assessing different teaching contexts and classroom conditions,
• an awareness of alternative teaching techniques and the ability to put these into practice,
• the confidence and skill to alter your teaching techniques as needed,
• practical experience with different teaching techniques,
• informed knowledge of yourself and your students,
• interpersonal communication skills, and
• attitudes of flexibility and openness to change.

We may be overwhelmed by these goals and we may find it hard to address them all at once. Brown (2001) also believes that if we try to focus on everything at the same time, we may end up doing nothing well. He points out that it is easier for us to slip into a pattern of just keeping a step ahead of our students as we struggle in this stressful world of teaching, which is the beginning of a downward spiral that we should avoid at all costs. How can we professionally and personally grow and develop ourselves if our concern is merely to survive from one class to another without trying to go beyond our comfort zone?

Before discussing further, let’s make an agreement on the definition of teaching and teaching professionalism. It is in the common sense that teaching means the actual interaction between a class teacher and students and between students and students in the, what so called classrooms or school environment. In our perspective, teaching includes four aspects, namely the preparation, the teaching itself, the evaluation and reporting.

The first aspect is the preparation. Knowing what to teach topically, linguistically, socio – culturally will mean teachers’ responsibility to have good mastery on the teaching material to do with the students. Covering the syllabus will mean knowing the teaching material from various angles or aspects of teaching. Knowing what to teach will determine the way, how teaching interactions should take place. What students, the class teacher should do during the class time. What teaching media to use. What language expressions to practice. What paralinguistic aspects to involve. What grammatical aspects to include. Bearing those aspects in mind, preparation will take the form of finding out resources, finding out references, selecting and creating teaching media, consulting grammar books and books on teaching or the seniors, writing lessons planning.

The second aspect is the teaching. A director of an English school expects professionally prepared teachers to arrive on their first day of class ready with students. They are supposed to be efficient, effective and appropriate to the learners’ need, having undergone the academic preparation programs. However, many schools do not let new teachers begin their jobs immediately. Although they have gone through academic years, prior to their teaching jobs, they should be doing what so called pre-service teacher training. Preparation on the variety of teaching techniques and strategies need to be done to cater for the variety of learning contexts.

The third and the fourth aspects are evaluating and reporting the students’ progress. A discussion on the third and fourth aspects won’t be done here, although they are inseparable. We know that it is not complete to talk about professional teaching without discussing those two last aspects. A successful teaching and learning process must involve the least requirements: preparation, teaching, evaluating and reporting. However, due to the limitation of space and time, they are not discussed here.

Vietnam’s Experience
Martin Buber, a philosopher, says that by looking at others, we are made aware of our uniqueness. Reading Vietnam’s experience is like looking at our experience. Several paragraphs that follow try to summarize Vietnam’s experience described by Pham Hoa Hiep (2001).

A lot of university graduates become teachers without sufficient preparation in TEFL methodology. These young teachers directly handle a lot of classes and do not have much opportunity to develop themselves. This, however, is quite understandable since their undergraduate courses did not prepare them to deal with teaching practice. Instead of studying practical techniques and teaching methodology, they studied linguistics and literature more. Older generation of teachers do not seem to be better qualified. They undertook their training in the past and have already set in their ways in teaching. Newer trends in teaching methods and approaches are unknown to them.

Before 1986, Russian was a compulsory language and the number of teachers of Russian was higher than the number of teachers of English. Following the fall of the Soviet Union, a great number of teachers of Russian became redundant, so these teachers were retrained for two years to become teachers of English. Some made significant progress and have become confident to teach English, while the majority of them did not benefit from the retraining. Many former Russian teachers lack confidence in both English language skills and teaching methods.

Many teachers in Vietnam consider teacher development as studying abroad for a degree or attending training workshops organized by foreign aid agencies. Pham Hoa Hiep highlights the importance of organizing in-service development in the form of class observations, seminars, workshops, or even small talks. This would give teachers from the same institution the opportunity to exchange ideas and share experience.

In comparison to other occupation in Vietnam, a teacher’s salary is extremely low. The Ministry of Education and Training officially requires 10 to 12 hours a week. That’s why after the mandated teaching hours to maintain their official positions, many teachers use the rest of their time for additional teaching at other institutions to make ends meet.

What Pham Hoa Hiep (2001) describes does not seem to be very typical Vietnamese. Indonesia undergoes similar experience. Like teachers in Vietnam, Teachers of English in Indonesia are also confronted with similar problems. Comparing Vietnam and Indonesia, we would like to point out that we share three common problems: inadequate teacher training, inadequate teacher development, and welfare. We, however, would like to focus on teacher development and what we can do to make it sustainable.

Teacher Development and Teacher Training.
Bearing in mind the important roles of teachers, especially as a resource and a tutor, they are urged to continually improve and maintain their ability to facilitate their students’ curiosity, enthusiasm and interest of learning. Teacher Development is a way to reach developed advancement in educational practices. Being well organized, being happy and interested in the process of students’ learning, having good sparks, being self motivated are the least results of developed teachers. Teacher development should lead to psychologically healthy working environment, improvement in problem-solving skills and avoidance of depression and loss of creativity. Teacher development enhances positive processes to capable, happy, and healthy teachers, so as to reduce teacher burnout.

As contrasted to Teacher Training, teacher development is less formal in the way it is normally conducted by institutions. While teacher training programs are formally designed and implemented by the institution where attendance is made compulsory, teacher development encourages voluntary sharing of ideas by peers. Teachers are expected to actively participate in formulating the content and the implementation. Teacher training is becoming a compulsory measuring tool to join an institution, whilst teacher development enhances participations’ motivation as the part of their responsibility. If teachers are motivated and enthusiastic, teacher development will result in well-rounded, well-adjusted teachers, who are satisfied and happy with their jobs.

Teacher Development: How It Is Done
Teacher development encompasses the ways teachers improve themselves. It can take place individually and informally through simple interactions, spontaneous conversations between colleagues reflecting the exchanges of ideas in the teaching world. Students’ problems and other problems on teaching materials, teaching techniques, standards on the evaluation might become thoughts and ideas to compromise. Staff meetings, group works, individual assignment allow teachers to share and to seek advice from peers.

Teacher Development Activities
When asked about development, teachers often mention studying for a degree, attending external seminars or workshops, and inviting experts to their school. In the spirit of promoting in-service development highlighted by Pham Hoa Hiep, we would like to list professional development activities which have direct benefits in teachers’ daily work.

• Team teaching: two or more teachers do the preparation, the teaching and the evaluation of a particular lesson.
• Peer teaching: a workshop where a teacher does the teaching to his/her peers, who act as students. Peer teaching might be purposeful for trying out new teaching materials, techniques or new stages of a lesson.
• Micro Teaching: teaching part of a complete lesson with real students with some other teachers observing and providing feedback afterwards.
• Class Observation: an observation of a complete lesson done by a supervisor, a trainer to make an assessment or a suggestion to an improvement. Class observation can also be done by peers to pursue improvement from others.
• Swap-shops: swapping lessons plans among groups. Feedback will become useful resource for the groups.
• Workshops: sharing of ideas on teaching, materials, students’ problems among teachers. The supervisor, the academic manager can lead the discussions based on the floor’s need.
• Self-evaluation: teachers evaluate their performance with a self-evaluation checklist.
• Student Feedback: students are invited to evaluate the course content and the course implementation including how teachers conduct the teaching.
• Teaching Portfolio: It is a collection of professional records or documents, which reflects the teacher’s development.
• Online Communities: Participating in professional mailing lists makes the teachers stay abreast with new trends and methods in teaching. They can exchange ideas and share practical experience with other teachers in other parts of the world.

Only when we can turn these activities into habits, we will be able to make teacher development sustainable. “We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit,” a saying by Aristotle goes.

Conclusion
Teacher development aims at teachers’ better efforts, skills, abilities and achievements. It helps teachers to become healthier and more satisfied professionals, with the philosophical background that happy, well-adjusted and inspired teachers are valuable assets. To be more valuable, teachers are supposed to develop themselves, bearing in mind that it is not an extra burden to take.

“What do our English teachers do when they are not teaching?” the answer is very distinct.

A. Sumarno and Edy Sukrisno
ELTI-Gramedia Yogyakarta

Maybe they go for shopping…hahaha –writer just joke

Hit Man 2006

2 February 2006

Wed, 19 Oct 2005 21:44:38 +0700
“Rudy Thehamihardja”

Pengakuan seorang economic Hit-man

Pengakuan seorang yang naif dan keliru
Filed under: Ekonomi & Bisnis

Pada 15 September 1999, Dana Moneter Internasional (IMF) yang sedang menjalin kerja sama dengan pemerintah Indonesia, dalam bentuk Extended Fund Facility (EFF), meng-hentikan kerja sama ter-sebut. Ini karena Presiden B.J. Habibie menolak mengumumkan long form audit report tentang skan-dal Bank Bali.

Segera setelah putusnya hubungan itu diumumkan, perwakilan UNICEF di-Indonesia memberi per-nyata-an bahwa negara ini akan terisolasi dari sumber-sumber utang luar negeri, sedangkan pe-merintah sudah sangat kekurangan uang. Akibatnya, puluhan juta anak miskin sudah dan akan putus sekolah sambil kekurangan gizi.

Puluhan juta anak miskin ini akan tumbuh menjadi orang-orang yang tidak berpendidikan dengan otak dan fisik yang tidak normal. Mereka menjadi orang-orang tidak berguna, sehingga Indonesia akan ke-hilangan satu generasi dari penduduk-nya. Sinyalemen UNICEF di-dengungkan lebih keras dan lebih masif lagi oleh sekelompok pembentuk opini publik bangsa Indonesia.

Pendek-nya, kalau pemerintah tidak mau segera menormalkan hubungan-nya dengan masyarakat in-ternasional, kualitas manusia Indonesia akan hancur. Ini jelas sekali tersirat bahwa yang diartikan de-ngan masyarakat internasional adalah CGI, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, Paris Club, London Club, dan IMF yang bertindak sebagai pemimpin.

Jadi, atas komando IMF semua lembaga itu merupakan satu kelompok yang sikap dan langkah-nya terus-menerus satu menghadapi Indonesia. Semua keputusan lembaga itu di-masyarakat-kan secara masif oleh sekelompok pembentuk opini publik tersebut.

Utang sebagai senjata

Untuk selanjut-nya, saya sebut kelompok masyarakat internasional itu ‘kartel IMF’, sedangkan se-kelompok pembentuk opini publik-yang merupakan bangsa Indonesia juga-sebagai ‘kroni.’

Para kroni ini tidak saja bertindak sebagai corong pengeras suara tetapi juga menduduki posisi stra-tegis di-pemerintahan, yang masuk ke-semua tempat ‘dipaksakan’ oleh kartel IMF.

Senjata mereka adalah besarnya utang luar negeri Indonesia yang tidak mampu dibayar lagi. Ke-nyataan ini dipakai sebagai alat penekan untuk me-maksa-kan kehendak. Utang dalam negeri pe-merintah juga harus diperbesar sebagai faktor yang lebih melemah-kan keuangan negara.

Dipakai-nya isu utang dari kartel IMF dalam jumlah besar yang tidak dapat dibayar tepat waktu oleh pemerintah Indonesia dikemukakan oleh banyak ekonom dan pengamat asing. Mereka antara lain John Pilger yang dalam bukunya, The New Rulers of the World, mengatakan”… utang luar negeri yang belum terbayar yang memaksa negara-negara termiskin membayar US$100 juta per hari kepada para kreditur Barat. Akibat-nya, sebuah dunia, dimana elit yang lebih sedikit dari satu miliar orang, me-nguasai 80% dari kekayaan seluruh umat manusia.”

Sedangkan John Perkins dalam buku-nya, Cofessions of an Economic Hit Man menulis ” … tujuan membangun proyek-proyek raksasa tersebut ialah menciptakan laba sangat besar bagi para kon-traktor-nya (asing), dan membuat bahagia sekelompok kecil elit dari bangsa penerima utang luar ne-geri, sambil memastikan ketergantungan keuangan yang langgeng (long term), dan karenanya men-cipta-kan kesetiaan politik dari negara-negara target di dunia.”

“Semakin besar jumlah utang luar negeri-nya semakin baik. Kenyataan bahwa beban utang yang akan di-kena-kan pada negara penerima utang akan menyengsarakan (deprive) rakyat-nya yang termiskin di bidang kesehatan, pendidikan, dan pelayanan sosial lainnya untuk berpuluh-pulih tahun lamanya tidak perlu menjadi pertimbangan.”

Semua-nya itu baru saya rasakan sendiri mulai akhir 1999, sejak saya diangkat menjadi Menko Ekuin, menjadi anggota Komisi IX DPR, dan kemudian diangkat menjadi Menneg Perencanaan Pem-bangunan Nasional (PPN) / Kepala Bappenas. Dalam semua kapasitas tersebut, saya tentu banyak ber-hubung-an dengan kartel IMF. Sebelum-nya saya adalah orang yang naif dan terseret oleh arus ke-ke-liruan yang di-cipta-kan oleh kartel IMF dan para kroni-nya. Saya juga telat mikir (telmi).

Mengapa saya naif, keliru, dan telmi?

Karena saya sangat dihantui oleh pernyataan UNICEF bahwa puluhan juta anak miskin akan putus se-kolah dan kekurangan gizi kalau hubungan dengan IMF, dalam bentuk EFF, tidak di-hidup-kan kem-bali.

Maka ketika Presiden Abdurrahman Wahid bertanya kepada saya apa prioritas saya sebagai Menko Ekuin-nya? Saya segera mengatakan:

“ Mengundang IMF kembali dan pemberantasan korupsi.”

Saya kemudian kemukakan argumentasi-nya dan langsung disetujui oleh Presiden Wahid.

Saya mendapat telepon dari Hubert Neiss yang memberi ucapan selamat kepada saya. Neiss sedang berlibur di-Australia.

Saya ‘mengemis’ kepada Neiss agar ia sudi mampir ke-Jakarta saat akan kembali ke-Washington. Ini karena saya akan menjelaskan kesungguhan pemerintahan Presiden Wahid untuk menyambung kem-bali kerja sama dengan IMF dalam bentuk yang sekeras apa-pun.

Benak saya dihantui oleh ‘puluhan juta anak miskin yang sudah putus sekolah dan kekurangan gizi.’ Neiss mengabul-kan permohonan saya dan tiga hari kemudian ia tiba di-Jakarta.

Menyepakati LoI

Neiss kemudian bersama saya menghadapi pers sambil membagi-bagikan long form audit report ten-tang skandal Bank Bali. Seminggu kemudian, delegasi IMF sudah tiba dan bekerja dengan peme-rintah Indonesia. Bentuknya seperti yang kita kenal, yaitu menyepakati apa yang dinamakan Memo-randum of Economic and Financial Program (MEFP) atau lebih dikenal dengan sebutan Letter of Intent (LoI).

Perundingan pertama gagal karena IMF minta agar bea masuk beras dan gula nol persen. Kami, dele-gasi Indonesia, tidak dapat menerima permintaan IMF karena hal itu bisa dipastikan akan menimbul-kan protes dan gejolak oleh para petani padi dan tebu.

Perundingan dilakukan sampai sembilan kali tanpa kesepakatan alias deadlock. Yang mewakili pe-merintah Indonesia adalah Jusuf Kalla sebagai Menperindag dan M. Prakosa sebagai Menteri Per-tanian.

Semua anggota delegasi IMF pulang. Beberapa hari kemudian, saya ditelepon Neiss dan ia mengata-kan bila tidak dituruti, hubungan kerja sama dengan lembaga-lembaga internasional itu putus lagi.

Saya terus-menerus dihantui oleh dengungan bahwa ‘puluhan juta anak miskin putus sekolah dan ke-kurangan gizi.’ Maka saya mohon kepada Presiden Wahid agar Kepala Negara turun tangan.

Bicara langsung

Presiden Wahid kemudian berbicara langsung dengan Stanley Fischer. Deputi Direktur Pelaksana IMF untuk Asia Timur dan Pasifik itu mengabulkan permintaan Presiden Wahid agar mengenakan bea masuk untuk beras dan gula dengan angka yang disepakati bersama. Setelah mengalami tekanan yang demikian berat, kami tentu bertekuk lutut dengan bea masuk yang rendah saja.

Setelah itu, kehendak IMF di-sangat banyak bidang tidak masuk akal dan tidak ada logika-nya sama sekali. Tetapi saya terus-menerus menelan-nya sebagai pil pahit karena dengungan ‘puluhan juta anak miskin putus sekolah dan menderita kurang gizi.’

Saya sebenar-nya bingung, apa hubungan antara hal-hal yang dipaksakan IMF dan kemiskinan? Tetapi saya memang dihantui oleh dengungan tersebut, selain naif dan telmi.

Kerja sama dengan IMF berjalan mulus sampai sekarang, walaupun pemerintah harus melakukan hal-hal yang sulit dicerna akal sehat.

Kemiskinan & kurang gizi

Mengapa kemiskinan tidak berkurang dan mengapa semakin banyak orang dan anak-anak ke-ku-rangan gizi?

Mengapa kondisi menjadi semakin parah sampai terjadi busung lapar dan sudah ada yang mati ke-laparan?

Mengapa sudah ada gambar di-layar televisi anak-anak yang tinggal tulang-belulang, tidak bisa ber-gerak, dan menunggu kematian?

Setiap kali ada orang yang prihatin terhadap kemiskinan, selalu saja dijawab oleh kroni, belum seperti Etiopia yang tayangan-nya berupa anak kecil dan ibu yang sama-sama dalam proses kematian karena kelaparan.

Sekarang tayangan seperti itu dapat kita saksikan di-televisi Indonesia tentang anak-anak bangsa ini.

Dimanakah IMF beserta kartelnya?

Dimanakah Bank Dunia yang katanya spesialis dalam pemberantasan kemiskinan?

Betulkah John Pilger dan John Perkins?

Sekarang sudah mulai di-dengung-kan oleh kroni bahwa di-Indonesia sudah lama selalu terjadi ke-matian kelaparan dan busung lapar di-kantong-kantong kemiskinan. Hanya sekarang terlihat begitu dramatis karena telah terjadi hal yang membanggakan, yaitu demokratisasi, otonomi daerah, dan ke-terbuka-an.

Demokrasi berarti para petinggi negara bebas membuat kebijakan apa saja. Ini karena para petinggi itu diplih langsung oleh rakyat.

Uang dari Dana Alokasi Khusus, Dana Alokasi Umum, dan Bagi Hasil tidak perlu untuk orang miskin tetapi boleh dipakai untuk membeli kapal pesiar pribadi bagi para petinggi negara di-daerah. Bukan-kah mereka dipilih langsung oleh rakyat melalui proses yang paling demokratis di dunia, selain di-saksi-kan oleh begitu banyak pengamat dan pemimpin dunia?

Bagi saya, para pemimpin (bukan pejabat negara) yang prihatin dan peduli harus berbuat sesuatu. Mengenai bentuk-nya, belum ditemukan, dan karena-nya mari kita berpikir bersama-sama!

Oleh Kwik Kian Gie
Mantan Menneg PPN/Kepala Bappenas

MEDIA INDONESIA

Selasa, 28 Juni 2005

Wujud Neokolonialisme Baru

Batara M Simatupang, kandidat doktor Maastricht School of Management,

Netherlands

MERUJUK buku Confessions of an Economic Hit Man atau ‘Pengakuan (dosa) Seorang Penembak Ekonomi’ yang diluncurkan John Perkins di tahun 2004, ternyata buku ini telah membeber-kan ba-gaimana sang aktor intelek me-main-kan peran penembak ekonomi yang mempunyai tugas utama untuk meng-gelembung-kan utang negara ketiga yang memiliki sumber daya alam yang me-limpah. Petualangan Perkins ini telah dimulai sejak 1971 dan konon Indonesia telah dijadikan sebagai target operasi (TO) oleh penembak ekonomi, dengan pada puncak-nya negeri ini didera krisis ke-uangan yang sangat parah di-1997-1998.

Aktor ini telah berhasil dengan gemilang menjalankan peran-nya. Ia berhasil meng-gelembung-kan utang Indonesia, dan kemudian muncul menjadi salah satu negara pengutang terkemuka di-planet ini. Untuk Januari 2005 saja telah mencapai US$136,116 juta yang terdiri dari 58,27% pinjaman pe-merintah; 38,51% pinjaman swasta; dan 3,22% dalam bentuk surat berharga (LB-EMP BI, April 2005).

Dari sisi internal, terciptanya akumulasi utang yang menggunung, tentu tidak terlepas dari segala trik dan manuver yang meng-atas-nama-kan kepentingan rakyat, yakni peruntukannya mungkin selama ini belum sepenuh-nya di-dayaguna-kan untuk kepentingan rakyat atau negara, bahkan bisa saja terjadi kamuflase dalam bentuk pembelokan alokasi, baik itu untuk kepentingan golongan ataupun untuk kepentingan pribadi dan menjadikannya sebagai berhala baru, yaitu korupsi. Dalam menjala-nkan aksi-nya, penembak ekonomi tidak saja menciptakan perangkap korupsi dan kesempatan itu tidak berdiri sendiri. Bersamanya ada juga permainan duniawi yang nikmat atau bahkan disertai tindakan aksi yang kurang bersahabat. Dapat dikatakan pekerjaan penembak ekonomi bukanlah pekerjaan se-orang yang ‘waras’ (baca: berlawanan dengan hati nurani) sehingga dia dengan sadar meng-ungkap-kan secara terbuka ketidakwarasan yang diperankannya dari sang sutradara. Neo-kolonialis-me baru

Dari wawancara Perkins pada 9 November 2004 dengan kantor berita Democracy Now di-Amerika, ternyata Indonesia memang telah dijadikan target operasi yang secara sadar atau tidak secara perlahan telah masuk dalam perangkap. Dalam wawancara-nya ia mengatakan,

‘’It was giving loans to other countries, huge loans, much bigger than they could possibly repay. One of the conditions of the loan, let’s say a $1 billion to a country like Indonesia or Ecuador, and this country would then have to give ninety percent of that loan back to a US company, or US companies, to build the infrastructure'’.

Jadi utang yang menggunung itu bukan-lah terjadi sebagai suatu kebetulan atau kecelakaan, ia terjadi akibat akumulasi dari praktik-praktik neokolonialisme baru yang masuk sejak lama dan puncak-nya meledak pada tahun 1997-1998. Mungkin akar masalah-nya adalah pada kegiatan underground economy, baik yang dilakukan pihak asing maupun oknum domestik, dan akhir-nya berujung pada kondisi ekonomi makro Indonesia yang rentan dari serangan spekulasi. Sayang-nya, banyak anak bangsa yang kurang menyadari akumulasi ini terjadi, bahkan masih tega me-mancing di-air keruh, baik itu menamakan kepentingan rakyat, bahkan juga memanfaatkan mahasiswa dan kelompok rakyat tertentu sebagai kendaraan politik mereka.

Pada saat yang sama kita dihadapkan pada proses internal kebijakan publik pemerintah. Proses yang di-tampil-kan pemerintah melalui kenaikan BBM adalah juga sebagai wujud ‘neokolonialisme baru terhadap rakyat-nya’. Model-model seperti ini sudah dapat dianggap wajar dan lumrah. Namun dapat di-hipotesis-kan, wujud neokolonialisme hanya berganti baju dan ditata lebih apik lagi, dengan tujuan akhir bagi kemaslahatan bagi rakyat. Namun, sayang dalam praktiknya belum tampak nyata.

Pemerintah jelas memiliki legitimasi yang kuat untuk menjalankan otoritas yang ada di-tangan-nya. Arti-nya, kalau penguasa tidak mau memerhatikan kepentingan rakyatnya secara kompromistis-logis, pada saat itulah praktik neokolonialisme pemerintah terhadap rakyatnya tengah berlangsung dengan sah. Kenapa sah? Karena pemerintah telah mendapat mandat dari rakyat dan terpilih sah secara de-mokratis.

Lihat-lah praktik negara pada tingkat supermikro, rumah tangga misal-nya.

Apakah seorang anak dapat dengan sewenang-wenang diusir atau diperlakukan tidak wajar oleh orang tuanya?

Tentu sang anak memiliki hak dan kewajiban, dan itu tetap melekat walau sekecil apa pun kelak yang ia dapatkan, dia sah menyandang predikat anak guna mendapatkan hak dan kewajiban-nya. Dengan alasan pengentasan kemiskinan, kenaikan harga BBM terpaksa dilakukan pemerintah untuk menutupi defisit, atau katakanlah menutup kebobolan APBN.

Apakah rakyat (seluruh rakyat, kaya dan miskin, berpendidikan atau tidak), tidak perlu mendapatkan haknya?

Padahal, selaku anak bangsa yang menjadi ahli waris sumber daya alam yang ada di negeri ini mereka punya hak menikmatinya.

Apakah kompensasi yang dihitung secara njelimet itu dapat menurunkan angka kemiskinan?

Tidak dapat diragukan, output kebijakan publik yang dikemas dari ide orang per orang itu, pada dasarnya sudah melalui proses pengkajian ilmu ekonomi secara sophisticated, padahal kita tahu ilmu ekonomi adalah ilmu andai-andai, jadi alangkah ironisnya kalau nasib rakyat juga turut diandai-andai-kan?

Bagaimana praktik ekonomi yang terjadi di pasar?

Apakah benar alokasi biaya pendidikan dan pengobatan gratis dapat terwujud pada tingkat akar rumput?

Apakah benar itu dapat menurunkan angka kemiskinan?

Lihat-lah juga, kalau kita ingin membangun masyarakat madani, kita tidak dapat membuat rakyat hanya menerima saja (seperti model kompensasi). Rakyat seharusnya tidak diberi ikan untuk makan, tetapi rakyat seyogian-ya diberi pancing untuk bisa menjadi masyarakat madani.

Pemerintah seyogia-nya harus lebih arif mendengar suara rakyatnya, kepentingan rakyatnya, bukan meng-utama-kan kepentingan konsultan-nya. Sebab, bagaimana-pun, keputusan tetap berada pada pe-merintah, bukan berada pada konsultan-nya. Tidak jarang kita saksikan, konsultan juga dapat men-jadi mitra dalam menge-gol-kan kebijakan yang di-ingin-kan pemilik-nya.

Inikah demokrasi yang kita inginkan?

Harga suatu demokrasi itu mahal, prosesnya perlu melibatkan rakyat, membutuhkan dana yang bukan sedikit (butuh proses edukasi) agar rakyat dapat melek akan hak dan kewajiban-nya, melek terhadap hukum yang melandasi kehidupan berbangsa dan bernegara, dan juga memahami bagaimana politik praktis dapat bergulir secara sehat. Sehingga bentuk-bentuk kebohongan publik semakin dapat di-tekan.

Jadi jelas-lah bagi kita, wujud neokolonialisme, apa pun bentuk dan kemasan-nya akan tetap eksis, ia tidak akan pernah mati. Ia akan selalu mengekor kepada orang/kelompok/penguasa/negara yang memegang kendali. Tinggal bagaimana kita mampu menatausahakannya, sehingga pola itu tidak semakin me-muruk-kan kita, malah mengubahnya sebagai pendorong semangat untuk bangkit dari ke-terpuruk-an, sehingga gap yang terjadi semakin tipis! ***

Pengakuan Perkins

Kompas, Sabtu,16 Juli 2005

Nama-nya John Perkins, warga Amerika Serikat yang mengungkapkan jaringan corporatocracy. Inilah ilmu tentang mencari untung sebanyak- banyaknya dengan memeras habis negara yang mudah dikelabui, seperti Indonesia.

Lewat bukunya, Confessions of An Economic Hit Man (2004), ia mengaku salah dan menyesali mengapa para pemimpin negaranya belum berubah. Ah, tak apa-apa karena di sini juga belum ada perubahan kok.

Perkins adalah economic hit man (EHM) untuk sebuah perusahaan konsultan MAIN di Boston, AS. Cara kerja mereka mirip dengan mafia karena menggunakan segala caranya termasuk membunuh atau mempekerjakan pelacurân untuk mencapai tujuan politik dan ekonomi.

Ia menulis bahwa EHM bertanggung jawab atas terbunuhnya Presiden Panama Omar Torrijos dan Presiden Ekuador Jaime Roldos. Dua kepala negara di Amerika Latin ini mesti dilenyapkan karena menentang ilmu cari untung itu, yang dijalani Gedung Putih dan para eksekutif eksklusif.

Kita melakukan pekerjaan kotor. Tak ada yang tahu apa yang kamu lakukan, termasuk istrimu. Kamu mau ikut atau tidak? Kalau mau, kamu dilarang keluar dari kantor ini sampai mati, kata sang bos Perkins yang suatu hari tiba-tiba raib ibarat hantu.

Tugas pertama Perkins membuat laporan fiktif agar lembaga- lembaga bantuan (Perkins menyebut IMF, Bank Dunia, dan USAID) mau mengeluarkan utang. Dana itu disalurkan ke-proyek-proyek infrastruktur yang di-kerjakan berbagai perusahaan top AS, seperti Bechtel dan Halliburton.

Tugas kedua, Perkins harus membangkrutkan negeri penerima utang. Setelah tersandera utang setinggi gunung, barulah si negara penerima dijadikan kuda yang dikendalikan sang kusir.

Presiden negara pengutang akan ditekan supaya, misalnya, memberikan voting pro-AS di Dewan Keamanan PBB atau memberikan lokasi untuk pangkalan militer AS. Bisa juga Washington menekan agar negeri pe-ngutang menjual ladang minyak atau kekayaan alam lainnya.

Selama tiga bulan di tahun 1971 Perkins keliling Indonesia menyiapkan dongeng tentang pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita (GNP) kita. Angka-angka itu digelembungkan setinggi mungkin mendekati langit ketujuh.

Angka-angka catutan itu dilaporkan kepada Bank Dunia atau IMF. Para eksekutif di situ juga tukang-tukang ngibul yang serentak menganggukkan kepala sambil berdecak kagum,

” Wow, Indonesian economy is going to be great, yes? ”

Bos Perkins bilang, Presiden AS Richard Nixon ingin Indonesia diperas sampai kering seperti kain pel habis dipakai melantai. Negeri ini ibarat real estat terbesar di dunia yang tak boleh jatuh ke tangan Uni Soviet atau China. Berbicara tentang minyak bumi, kita tahu bagaimana negara kita tergantung darinya. Indonesia bisa menjadi sekutu kuat kita dalam soal itu,kata bos Perkins, Charlie Illingworth, suatu kali di Bandung.

Corporatocracy antara elite politik dan bisnis AS itu disambut hangat para pejabat kita. Paling penting, rekening bank para pejabat itu tak boleh sampai tinggal keraknya doang seperti tungku penanak beras.

Maka orang-orang Gedung Putih, Bechtel, Halliburton, lembaga-lembaga bantuan, MAIN, dan para pejabat itu saling tersenyum dan mengedipkan mata. Proyek pembangkrutan (bukan pembangunan) Indonesia pun dimulai.

Maka dimulailah lingkaran setan utang luar negeri yang dielu-elukan oleh ideologi pembangunan. Bukan cuma mau bangun prasarana, baru bangun tidur pun para pejabat kita langsung kabur mau ngutang dulu ke kantor perwakilan IMF atau Bank Dunia.

Nah, persekutuan antara corporatocracy AS dan cleptocracy (penyakit klepto) yang diderita elite Orde Baru itu berjalan mesra selama puluhan tahun. Rakyat Indonesia bengong saja seperti obat nyamuk yang menemani orang lagi pacaran.

Tujuan rahasia pembangunan proyek-proyek infrastruktur itu, keuntungan sebanyak-banyaknya untuk Bechtel, Halliburton, dan sejumlah perusahaan AS. Tujuan rahasia lainnya, memperkaya penguasa dan keluarganya di sini agar loyal kepada jaringan corporatocracy tersebut.

Semakin banyak utang yang dipinjamkan ke Indonesia, semakin baik. Selama tiga bulan keliling Indonesia, Perkins menjadi EHM yang andal meskipun kadang kala terganggu hati nuraninya menyaksikan kemiskinan di sini.

Berkat pengalaman pertamanya di Indonesia, Perkins berkali-kali dipercaya melakukan tugasnya sebagai hit man di-berbagai negara. Secara diam-diam dia menyiapkan buku Confessions yang dia tulis antara lain sebagai ungkapan minta maaf.

Setelah peristiwa 11 September 2001 terjadi di New York City (AS), Perkins menjadi salah seorang warga AS yang berani bersikap kontroversial. Dia bilang, tak usah terkejut tragedi tersebut terjadi karena itu salahnya jaringan corporatocracy yang dulu bermain api dengan menjadikan Osama bin Laden sebagai sekutu.

Bin Laden didukung jaringan corporatocracy untuk mendongkel rezim di Afganistan yang pro-Uni Soviet. Perkins mengungkapkan pula bagaimana dirinya menyiapkan seorang pelacur kelas tinggi di AS untuk melayani kebutuhan seorang pangeran Arab Saudi sebagai bagian dari tugasnya di MAIN.

Anda sebaiknya membaca buku Perkins. Semoga ada penerbit di sini yang mau membeli hak penerbitan sekaligus menerjemahkannya supaya dibaca anak-anak dan cucu-cucu kita.

Setelah membaca buku Perkins, hati menggumamkan Siapa Suruh Datang Jakarta, lagu Manado yang tenar di kalangan demonstran. Sapa suruh jual Blok Cepu/Sapa suruh jual Blok Cepu/Sandiri suka sandiri rasa….

(e-mail: bas2806@kompas.com)

John Perkins : Confessions of an Economic Hit Man
by Chief Alchemist a.k.a Wiley Chin - March 28, 2005 Posted: 3:13:43 PM EDT

I read about John Perkins’, ‘Confession of an Economic Hitman’ on the latest issue of the mag, ‘Over the Edge’. On Sunday afternoon, I went to MPH Subang Jaya to look for this book. I couldn’t find it. I guess it’s not here yet. But I would really love to get my hand on this one. So, this conspiracy thing is for real after all. The events and happenings of our world is indeed shaped by the elites within the US government and powerful US-sponsored organizations and rich corporations of America.

I got the book at Kinokuniya, KLCC 2 days ago.

What is an Economic Hitman? Here’s what the author said;

JOHN PERKINS: Basically what we (Economic Hitmen) were trained to do and what our job is to do is to build up the American empire. To bring — to create situations where as many resources as possible flow into this country, to our corporations, and our government, and in fact we’ve been very successful. We’ve built the largest empire in the history of the world. It’s been done over the last 50 years since World War II with very little military might, actually. It’s only in rare instances like Iraq where the military comes in as a last resort. This empire, unlike any other in the history of the world, has been built primarily through economic manipulation, through cheating, through fraud, through seducing people into our way of life, through the economic hit men. I was very much a part of that.

Taken from the site, Democracy Now!

Confessions of an Economic Hit Man: How the U.S. Uses Globalization to Cheat Poor Countries Out of Trillions

http://www.democracynow.org/article.pl?sid=04/11/09/1526251

JOHN PERKINS - AUTHOR, LECTURER

John Perkins has lived four lives: as an economic hit man (EHM); as the CEO of a successful alternative energy company, who was rewarded for not disclosing his EHM past; as an expert on indigenous cultures and shamanism, a teacher and writer who used this expertise to promote ecology and sustainability while continuing to honor his vow of silence about his life as an EHM; and as a writer who, in telling the real-life story about his extraordinary dealings as an EHM, has exposed the world of international intrigue and corruption that is turning the American republic into a global empire despised by increasing numbers of people around the planet.

As an EHM, John’s job was to convince Third World countries to accept enormous loans for infrastructure development—loans that were much larger than needed—and to guarantee that the development projects were contracted to U.S. corporations like Halliburton and Bechtel. Once these countries were saddled with huge debts, the U.S. government and the international aid agencies allied with it were able to control these economies and to ensure that oil and other resources were channeled to serve the interests of building a global empire.

In his EHM capacity, John traveled all over the world—to Africa, Asia, Europe, Latin America, and the Middle East—and was either a direct participant in or witness to some of the most dramatic events in modern history, including the Saudi Arabian Money-laundering Affair, the fall of the shah of Iran, the death of Panama’s President Omar Torrijos, the subsequent invasion of Panama, and events leading up to the 2003 invasion of Iraq.

In 1980 Perkins founded Independent Power Systems, Inc (IPS), an alternative energy company. Under his leadership as CEO, IPS became an extremely successful firm in a high-risk business where most of his competitors failed. Many “coincidences” and favors from people in powerful positions helped make IPS an industry leader. John also served as a highly paid consultant to some of the corporations whose pockets he had previously helped to line—taking on this role partly in response to a series of not-so-veiled threats and lucrative payoffs.

After selling IPS in 1990, John became a champion for indigenous rights and environmental movements, working especially closely with Amazon tribes to help them preserve their rain forests. He wrote five books, published in many languages, about indigenous cultures, shamanism, ecology, and sustainability; taught at universities and learning centers on four continents; and founded and served on the board of directors of several leading nonprofit organizations.

One of the nonprofit organizations he founded and chaired, Dream Change Coalition (later simply Dream Change, or DC), became a model for inspiring people to attain their personal goals and, at the same time, to be more conscious of the impacts their lives have on others and on the planet, and for empowering them to transform their communities into more balanced and sustainable ones. DC’s Pollution Offset Lease for Earth (POLE) program offsets the atmospheric pollution we each create, while also helping indigenous people to preserve their forests and promoting earth-honoring changes in consciousness. DC has developed a following around the world and has empowered people to create organizations with similar missions in many countries.

During the 1990s and into the new millennium, John honored his vow of silence about his EHM life and continued to receive lucrative corporate consulting fees. He assuaged his guilt by applying much of the money he earned as a consultant to his nonprofit work. Arts & Entertainment television featured him in a special titled “Headhunters of the Amazon,” narrated by Leonard Nimoy. Italian Cosmopolitan ran a major article on his “Shapeshifting” workshops in Europe. TIME magazine selected Dream Change as one of the thirteen organizations in the world whose Web sites best reflected the ideals and goals of Earth Day.

Then came September 11, 2001. The terrible events of that day convinced John to drop the veil of secrecy around his life as an EHM, to ignore the threats and bribes, and to write Confessions of an Economic Hit Man. He believed he had a responsibility to share his insider knowledge about the role the U.S. government, multinational “aid” organizations, and corporations have played in bringing the world to a place where such an event could occur. He wanted to expose the fact that EHM are more ubiquitous today than ever before. He felt he owed this to his country, to his daughter, to all the people around the world who suffer because of the work he and his peers have done, and to himself. In this book, he describes the dangerous path his country is taking as it moves away from the original ideals of the American republic and into a quest for global empire.

Previous books by John Perkins include Shapeshifting, The World Is As You Dream It, Psychonavigation, The Stress-Free Habit, and Spirit of the Shuar.

John says: “We have entered one of the most important periods in human history, the Time of Prophecies. We have the opportunity to lift ourselves to new levels of consciousness. This time was foretold over the past centuries around the world. Now it is up to us -you and me- to make it happen. What a wonderful gift!”

Quill Awards nominee for Best Business Book!

Confessions of an Economic Hit Man has been nominated for the inaugural season of The Quill Awards—”a consumer-driven celebration of the written word created to inspire reading while promoting literacy.” The winners will be chosen by consumer voting and announced in an awards ceremony aired on NBC on October 22. Polls are now open, so take this opportunity to make your voice heard.

“This riveting look at a world of intrigue reads like a spy novel….Highly recommended…”

—Library Journal

In this shocking memoir, Confessions of an Economic Hit Man, John Perkins tells of his own inner journey from willing servant of empire to impassioned advocate for the rights of oppressed people. Covertly recruited by the United States National Security Agency and on the payroll of an international consulting firm, he traveled the world—to Indonesia, Panama, Ecuador, Colombia, Saudi Arabia, Iran and other strategically important countries. His job was to implement policies that promoted the interests of the U.S. corporatocracy (a coalition of government, banks, and corporations) while professing to alleviate poverty—policies that alienated many nations and ultimately led to September 11 and growing anti-Americanism. Within a few weeks of its release , Confessions of an Economic Hit Man landed on The New York Times Bestseller List, then 19 other bestseller lists including the Los Angeles Times, San Francisco Chronicle, USA Today, Wall Street Journal, and Washington Post. The author has been interviewed repeatedly on national radio and television shows, including Amy Goodman’s Democracy Now, CSPAN’s Book TV, and PBS’ Now with David Brancaccio. And now the book is being published in 9 languages around the world. According to John Perkins, “It is accomplishing an important objective in inspiring people to think and talk and to know that we can change the world.”

“[A] gripping tell-all book….”

–Rocky Mountain News “John Perkins’ story is so astonishing it defies belief…. imagine the conceptual love child of James Bond and Milton Friedman.” –Boston Herald

“…compulsively readable and revealing.… Resisting threats and bribes, Perkins persisted and wrote his well-documented confessional. He has produced an unflinching and forceful insider’s look at how the U.S. government, multinational ‘aid’ organizations and corporations are following a dangerous path in their pursuit of oil and other resources.”

–Winnipeg Free Press

Hacker Cracker

This is our world now… the world of the electron and the switch, the
beauty of the baud. We make use of a service already existing without paying
for what could be dirt-cheap if it wasn’t run by profiteering gluttons, and
you call us criminals. We explore… and you call us criminals. We seek
after knowledge… and you call us criminals. We exist without skin color,
without nationality, without religious bias… and you call us criminals.
You build atomic bombs, you wage wars, you murder, cheat, and lie to us
and try to make us believe it’s for our own good, yet we’re the criminals.
Yes, I am a criminal. My crime is that of curiosity. My crime is
that of judging people by what they say and think, not what they look like.
My crime is that of outsmarting you, something that you will never forgive me
for.
I am a hacker, and this is my manifesto. You may stop this individual,
but you can’t stop us all… after all, we’re all alike.

—————————————————

“Hacker, Riwayatmu Kini…..”

oleh: Donny B.U., M.Si. *

=========
Pengantar
=========
Pernah suatu ketika pada tanggal 10 Agustus 2001 sebuah media massa online memberitakan mengenai hacker yang membobol dan men-deface (mengubah content maupun layout) beberapa situs di Internet dan memasang foto Tommy Soeharto di situs tersebut. Menurut media massa tersebut, aksi hacker tersebut adalah merupakan bantuan untuk menyebarluaskan dan menangkap Tommy Soeharto. Pada halaman yang di-deface tersebut, tertulis juga pesan “Hacked and deface not only a crime. This person is #1 criminal in our country”.

Kemudian belum lama berselang, tepatnya pada tanggal 16 Agustus 2001, beberapa perusahaan dotcom menyelenggarakan sebuah acara bertajuk HackersNight, di sebuah café di bilangan Jakarta Selatan. Acara HackersNight tersebut merupakan acara bulanan yang sudah mencapai putaran ke 12 di Jakarta. Acara party-party ala pebisnis dotcom tersebut juga dilangsungkan di Bandung dan Surabaya, dan sudah tentu dilaksanakan di sebuah café pula. Acara yang dilangsungkan hingga larut malam tersebut banyak menyajikan aneka hiburan, musik yang keras dan setumpuk hadiah dari para sponsor.

Bagi orang awam, kedua informasi tersebut tidaklah menunjukkan kejanggalan apapun. Toh memang akhirnya terminologi hacker bagi orang awam tidak mempunyai banyak arti dan tidak berpengaruh banyak dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tetapi bagi pelaku dan pemain industri teknologi informasi (TI), atau setidaknya bagi pemerhati dan pecinta TI, penggunaan kata hacker untuk dua contoh kasus tersebut di atas bisa menjadi suatu diskusi yang panjang. Ada pertanyaan yang paling mendasar: “Sudah tepatkah penggunaan kata hacker tersebut?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita memahami terminologi hacker tersebut lebih jauh.

==================================
Sejarah Singkat Terminologi Hacker
==================================
Terminologi hacker muncul pada awal tahun 1960-an diantara para anggota organisasi mahasiswa Tech Model Railroad Club di Laboratorium Kecerdasan Artifisial Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kelompok mahasiswa tersebut merupakan salah satu perintis perkembangan teknologi komputer dan mereka berkutat dengan sejumlah komputer mainframe. Kata hacker pertama kalinya muncul dengan arti positif untuk menyebut seorang anggota yang memiliki keahlian dalam bidang komputer dan mampu membuat program komputer yang lebih baik ketimbang yang telah dirancang bersama.

Kemudian pada tahun 1983, analogi hacker semakin berkembang untuk menyebut seseorang yang memiliki obsesi untuk memahami dan menguasai sistem komputer. Pasalnya, pada tahun tersebut untuk pertama kalinya FBI menangkap kelompok kriminal komputer The 414s yang berbasis di Milwaukee AS. 414 merupakan kode area lokal mereka. Kelompok yang kemudian disebut hacker tersebut dinyatakan bersalah atas pembobolan 60 buah komputer, dari komputer milik Pusat Kanker Memorial Sloan-Kettering hingga komputer milik Laboratorium Nasional Los Alamos.

1 dari pelaku tersebut mendapatkan kekebalan karena testimonialnya, sedangkan 5 pelaku lainnya mendapatkan hukuman masa percobaan. Pada tahun yang sama keluar pula sebuah film berjudul War Games yang salah satu perannya dimainkan oleh Matthew Broderick sebagai David Lightman. Film tersebut menceritakan seorang remaja penggemar komputer yang secara tidak sengaja terkoneksi dengan super komputer rahasia yang mengkontrol persenjataan nuklir AS.

Kemudian pada tahun 1995 keluarlah film berjudul Hackers, yang menceritakan pertarungan antara anak muda jago komputer bawah tanah dengan sebuah perusahaan high-tech dalam menerobos sebuah sistem komputer. Dalam film tersebut digambarkan bagaimana akhirnya anak-anak muda tersebut mampu menembus dan melumpuhkan keamanan sistem komputer perusahaan tersebut. Salah satu pemainnya adalah Angelina Jolie berperan sebagai Kate Libby alias Acid Burn.

Pada tahun yang sama keluar pula film berjudul The Net yang dimainkan oleh Sandra Bullock sebagai Angela Bennet. Film tersebut mengisahkan bagaimana perjuangan seorang pakar komputer wanita yang identitas dan informasi jati dirinya di dunia nyata telah diubah oleh seseorang. Dengan keluarnya dua film tersebut, maka eksistensi terminologi hacker semakin jauh dari yang pertama kali muncul di tahun 1960-an di MIT.

==============================
Manifesto dan Kode Etik Hacker
==============================
Sebenarnya hacker memiliki manifesto dan kode etik yang menjadi patokan bagi hacker di seluruh dunia. Manifesto Hacker dibuat oleh seorang hacker yang menggunakan nickname The Mentor dan pertama kali dimuat pada majalah Phrack (volume 1 / issue 7 / 25 September 1986).

Manifesto Hacker tersebut adalah:

- Ini adalah dunia kami sekarang, dunianya elektron dan switch, keindahan sebuah baud.
- Kami mendayagunakan sebuah sistem yang telah ada tanpa membayar, yang bisa jadi biaya tersebut sangatlah murah jika tidak dijalankan dengan nafsu tamak mencari keuntungan, dan kalian sebut kami kriminal.
- Kami menjelajah, dan kalian sebut kami kriminal.
- Kami mengejar pengetahuan, dan kalian sebut kami kriminal.
- Kami hadir tanpa perbedaan warna kulit, kebangsaan, ataupun prasangka keagamaan, dan kalian sebut kami kriminal.
- Kalian membuat bom atom, kalian menggelar peperangan, kalian membunuh, berlaku curang, membohongi kami dan mencoba meyakinkan kami bahwa semua itu demi kebaikan kami, tetap saja kami yang disebut kriminal.
- Ya, aku memang seorang kriminal.
- Kejahatanku adalah rasa keingintahuanku.
- Kejahatanku adalah karena menilai orang lain dari apa yang mereka katakan dan pikirkan, bukan pada penampilan mereka.
- Kejahatanku adalah menjadi lebih pintar dari kalian, sesuatu yang tak kan kalian maafkan.
- Aku memang seorang hacker, dan inilah manifesto saya.
- Kalian bisa saja menghentikanku, tetapi kalian tak mungkin menghentikan kami semua.
- Bagaimanapun juga, kami semua senasib seperjuangan.

Hacker juga memiliki kode etik yang pada mulanya diformulasikan dalam buku karya Steven Levy berjudul Hackers: Heroes of The Computer Revolution, pada tahun 1984.

Kode etik hacker tersebut tertulis:

1. Akses ke sebuah sistem komputer, dan apapun saja dapat mengajarkan mengenai bagaimana dunia bekerja, haruslah tidak terbatas sama sekali
2. Segala informasi haruslah gratis
3. Jangan percaya pada otoritas, promosikanlah desentralisasi
4. Hacker haruslah dinilai dari sudut pandang aktifitas hackingnya, bukan berdasarkan standar organisasi formal atau kriteria yang tidak relevan seperti derajat, usia, suku maupun posisi.
5. Seseorang dapat menciptakan karya seni dan keindahan di komputer
6. Komputer dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.

==================
Hacker dan Cracker
==================
Sebenarnya secara lebih spesifik terminologi hacker telah dijelaskan dalam buku Hacker Attack karya Richard Mansfield tahun 2000. Menurut Mansfield, hacker didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki keinginan untuk melakukan eksplorasi dan penetrasi terhadap sebuah sistem operasi dan kode komputer pengaman lainnya, tetapi tidak melakukan tindakan pengrusakan apapun, tidak mencuri uang atau informasi. Sedangkan cracker adalah sisi gelap dari hacker dan memiliki kertertarikan untuk mencuri informasi, melakukan berbagai macam kerusakan dan sesekali waktu juga melumpuhkan keseluruhan sistem komputer.

Perbedaan terminologi antar hacker dan cracker tersebut kini menjadi bias dan cenderung hilang sama sekali dalam perspektif media massa dan di masyarakat umum. Ada beberapa faktor penyebab hal tersebut:

- Para cracker tidak jarang menyebut diri mereka sebagai hacker
- Manifesto dan kode etik para hacker kerap pula dianggap sebagai manifesto dan kode etik bagi para cracker.
- Media massa menggunakan terminologi hacker secara salah kaprah dan hantam kromo
- Industri film mengangkat kehidupan hacker dari kacamata Hollywood
- Masyarakat melabelisasi kegiatannya menggunakan kata hacker agar lebih memiliki daya jual

Berdasarkan beberapa kondisi tersebut di atas, maka terminologi hacker memiliki pelebaran makna sedemikian rupa, sehingga kesalah-kaprahan kian hari kian menjadi-jadi. Setiap perilaku negatif yang dilakukan di Internet sering kali dikaitkan dengan istilah hacker, baik oleh media massa maupun masyarakat umum. Contohnya adalah pada paragraf pertama dan kedua tulisan ini. Perilaku men-defaced suatu situs nyata-nyata bukanlah modus operandi hacker. Hacker sejatinya tidak memiliki niatan atau tindakan yang sifatnya merusak.

Penggunaan kata hacker untuk sebuah acara party-party di café seperti contoh di atas juga merupakan satu bentuk pengaburan makna hacker yang sebenarnya. Acara HackersNight yang selalu digelar di café-café tersebut hanyalah merupakan ajang kumpul-kumpul pebisnis dotcom untuk bertukar kartu nama, menikmati hiburan dan bercengkerama hingga larut malam. Agak sulit jika ingin memperkirakan bahwa hacker yang sebenarnya akan menghadiri acara tersebut. Karena sejatinya seorang hacker kurang mau jati dirinya terekspos.

Berbeda bila kita berbicara mengenai ajang pertemuan hacker terbesar di dunia, Def Con, yang diadakan setahun sekali setiap pertengahan bulan Juli di Las Vegas. Acara Def Con tersebut lebih kepada ajang pertukaran informasi dan teknologi yang berkaitan dengan aktifitas hacking. Para hacker dari seluruh dunia tidak segan-segan untuk muncul setahun sekali dalam Def Con tersebut karena disitulah mereka dapat merasakan berada di komunitas hacker yang sesungguhnya, bukan sekedar labelisasi saja.

Walhasil, melihat beberapa kondisi di atas, akhirnya mau tidak mau terjadi kompromi dalam penggunaan istilah hacker. Sebagian orang ada memilih istilah hacker dan cracker, ada yang lebih nyaman menggunakan istilah hacker putih dan hacker hitam dan ada pula yang tetap menggunakan kata hacker untuk semua perilaku kriminalitas di Internet. Karena hacker yang sejati lebih banyak diam, cracker sering menyatakan dirinya sebagai hacker dan masyarakat umum lebih familiar dengan istilah hacker, akhirnya mau tidak mau media massa harus mengikuti selera pasar dengan ikut-ikutan mengeneralisir terminologi hacker.

*) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh majalah Neotek, Vol.II - No. 1, Oktober 2001. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.
—————————–

Biar Miskin Asal Sombong

oleh : Donny B.U. *

Saya sebenarnya sempat optimis bahwa komputer dan Internet, bisa menggantikan fungsi beberapa teknologi komunikasi lawas yang sudah kadung dikeloni oleh sekian ratus juta penduduk Indonesia. Toh memang di beberapa kondisi, hal tersebut sudah mulai terasa, walaupun masih malu-malu. Misalnya saja, ketika dulu yang namanya berkirim-kiriman pesan untuk menyatakan turut berbahagia ataupun turut berduka cita kerap disampaikan dalam bentuk tertulis di atas sebuah kertas yang dibungkus oleh amplop berperangko, kini banyak yang mengalihkannya ke jasa layanan pesan singkat (SMS) dengan biaya kurang dari gopek. Murah meriah, cepat tepat! Komunikasi antar benua pun sudah tidak perlu menunggu berhari-hari, cukup sampaikan melalui e-mail, maka detik itupun komunikasi sudah terjalin. Mau yang interaktif? Bisa gunakan fasilitas chatting, asal betah saja memahami maksud lawan bicara dengan cara membaca tulisan di monitor dan menjawabnya dengan cara mengetik.

Mau yang lebih revolusioner? Lengkapi saja perangkat komputer Anda dengan sound card, speaker dan microphone ala kadarnya. Modalnya paling banter di bawah gopekceng. Lalu instal software komunikasi berbasis Voice over Internet Protocol (VoIP), semisal Yahoo! Messenger, maka Anda sudah bisa bercuap-cuap dengan lawan bicara yang berada di mana saja di penjuru dunia. Syaratnya cuma akses Internet dan pulsa telepon lokal! Hebat bukan? Semangat komputerisasi dan Internetisasi ini yang selalu didengung-dengungkan oleh para pandai Internet kepada masyarakat awam. Pokoknya, apapun aktifitas Anda, hasilnya akan lebih murah-meriah cepat-tepat apabila menggunakan komputer dan Internet, alias teknologi informasi (TI)

Lah kok pada saat ajang unjuk diri TI terakbar di Indonesia pada awal April 2004 lalu, tepatnya saat proses penghitungan suara Pemilu 2004, hasilnya kok bertolak belakang dengan apa yang “ditempelkan” di jidat masyarakat tentang TI? Sistem komputerisasi Pemilu yang sedemikian canggihnya, dan tentunya sedemikian mahalnya, ternyata dirasakan melempem oleh masyarakat. Banyak anomali yang timbul, misalnya lambatnya pemrosesan data suara untuk dapat ditampilkan di pusat tabulasi nasional, berubahnya angka menjadi 0 semua atau terjadi lonjakan angka sekian puluh juta, hingga terubahnya nama partai di dalam sistem TI tersebut menjadi nama yang “aneh-tapi-nyata” lantaran sistem berharga ratusan miliar rupiah tersebut sempat disatroni oleh “orang iseng” yang juga menggunakan komputer dan Internet. Pihak KPU boleh mengeluarkan sejuta alasan teknis untuk pembelaan diri, toh masyarakat sudah kadung kecewa. Lagian apa kepentingannya masyarakat umum dengan alasan teknis?

Toh bagi mereka, yang penting hasilnya sesuai tidak dengan yang dijanjikan dan dengan biaya yang telah dikeluarkan. Masak iya, kecepatan hasil penghitungan suara secara komputer bisa setara dengan yang secara manual. Itu saja kok yang ada di benak masyarakat! Apalagi konon, seperti kerap menjadi bisik-bisik di masyarakat, sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Elvis Presley, yaitu “Love Me Tender”, sangat populer di KPU. Mudah-mudahan kecewanya masyarakat lebih kepada manajemen KPU-nya, bukan kepada TI-nya.

Tapi tidak perlu terlalu heran. Nyatanya memang bangsa kita ini masih agak gamang, kagetan dan “gumunan” dengan perkembangan TI yang revolusioner di Indonesia. Memang, ada indikasi bahwa TI kita ini ujung-ujungnya adalah “menurut petunjuk” vendor saja. Bisa jadi mereka memang sebenarnya tidak peduli kita siap atau tidak, butuh atau tidak. Yang penting jualan mereka laku di negara dunia kedua dan ketiga, karena pasar di negara asal mereka sudah jenuh! Kan ada prinsip dasar marketing, yaitu ciptakan kebutuhan, apabila memang barang jualan kita sebenarnya belum menjadi kebutuhan yang mendesak di pasar. Makanya jangan heran, bila ada rekan Anda, atau mungkin Anda sendiri, yang punya ponsel lebih dari 1 buah. Padahal mulut kita hanya satu! Atau mungkin ada yang memiliki ponsel, notebook atau komputer tercanggih, tetapi optimalisasi fungsinya paling banter hanya 10% saja. Pokoknya canggih, pokoknya menjadi trend-setter, pokoknya up-to-date, dan pokoknya mahal!

Jadi, akhirnya memang KPU tidak terlalu salah jika sistem TI yang mereka bangun tersebut kurang dapat berfungsi secara optimal. Lah wong gamang, kagetan dan “gumunan” terhadap TI ini sudah menjadi penyakit bangsa kok! Toh kebetulan saja, KPU ini menjadi bola kristal untuk melihat kondisi yang ada. Jadi, mempertanyakan kebijakan KPU dengan komputerisasinya tersebut sama dengan mempertanyakan diri sendiri di depan cermin. Logikanya, menghujat KPU ya menghujat diri sendiri toh! Kan sudah menjadi kelaziman di masyarakat kita (dan di negara kita tentunya), bahwa kemampuan yang terbatas kerap kalah set dengan ego yang menggelora. Ibarat pepatah ala “warung kopi”, nafsu besar tenaga kurang, biar miskin asal sombong!

*) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh majalah Djakarta!, Juni 2004. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.
———————————————

Nilam Emas Oil

Date: Thu, 24 Nov 2005 23:46:40 -0800 (PST)
From: Nilam Emas
Subject: jual essential oil

Jual minyak atsiri/essential oil :

1.minyak nilam
2. minyak sereh wangi
3. minyak mawar
4. minyak melati
5. minyak sedapmalam
6. minyak tanjung
7. minyak kenanga
8. minyak kemiri (kukui oil)
9. minyak jinten (blackcummin oil)
10. minyak adas
11. minyak cabe
12. minyak daun cengkeh, minyak cengkeh
13. minyak kayu putih
14. minyak lengkuas
15. minyak daun jeruk
16. minyak pala ,dll

info hub : email giriwangi@yahoo.com / giriwangi@netcape.net, or click di

www.geocities.com/giriwangi
HP: 08157953129

Optimisme Tahun Baru

Optimisme dalam Tahun Baru Hijriyah

Beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Muharram, bulan yang menandai
datangnya kembali tahun baru hijriyah. Kali ini kita memasuki tahun 1427
Hijriyah. Tentunya ada sejuta harapan dan impian yang memenuhi dada kita
alam menyambut datangnya tahun baru hijriyah.

Dengan pergantian waktu setahun, menunjukkan bahwa umur kita bertambah
satu tahun, tetapi kesempatan hidup kita di dunia telah ebrkurang pula
satu tahun, yang berarti semakin jauh kita dari kelahiran dan semakin
dekat kita kepada kematian.

Hasan al-Basri mengumpamakan manusia bagaikan kumpulan hari-hari, setiap
hari yang pergi, kita seperti kehilangan bagian dari diri kita. Apa yang
telah pergi tidak akan pernah kembali.

Tahun baru hijriyah mengingatkan kita kepada kejadian spektakuler yang
pernah terjadi dalam sejarah Islam, yaitu peristiwa “hijrah”. Hijrah
secara harfiah artinya perpindahan dari satu negeri ke negeri lain, dari
satu kawasan ke kawasan lain, atau perubahan lokasi dari titik tertentu ke
titik yang lain.

Secara historis, hijrah adalah peristiwa keberangkatan nabi besar Muhammad
s.a.w. dan para sahabatnya dari kota Makkah menuju kota Yathrib, yang
kemudian disebut al-Madinah al-Munawwarah.

Ditetapkannya peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah sebagai
awal tahun dari penanggalan atau kalender Islam, mengandung beberapa
hikmah yang sangat berharga bagi kaum muslimin, diantaranya:

Pertama: perisitwa hijrah Rasululah dan para sahabatnya dari Makkah ke
Madinah merupakan tonggak sejarah yang monumental dan memiliki majna yang
sangat berarti bagi setiap muslim, karena hijrah merupakan tonggak
kebangkitan Islam yang semula diliputi suasana dan situasi yang tidak
kondusif di Makkah menuju suasana yang prospektif di Madinah.

Kedua: Hijrah mengandung semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa
opimisme yang tinggi, yaitu semangat berhijrah dari hal-hal yang buruk
kepada yang baik, dan hijrah daru hal-hal yang baik ke yang lebih baik.

Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya telah melawan rasa sedih dan takut
dengan berhijrah, meski harus meninggalkan tanah kelahiran, sanak saudara
dan harta benda.

Ketiga: Hijrah mengandung semangat persaudaraan, seperti yang dicontohkan
oleh Rasulullah s.a.w. pada saat beliau mempersaudarakan antara kaum
muhajirin dengan kaum anshar, bahkan beliau telah membina hubungan baik
dengan beberapa kelompok yahudi yang hidup di Madinah dan sekitarnya.

Dalam konteks sekarang ini, pemaknaan hijrah tentu bukan selalu harus
identik dengan meninggalkan kampung halaman seperti yang dilakukan oleh
Rasulullah s.a.w. dan kaum muhajirin, tetapi pemaknaan hijrah lebih kepada
nilai-nilai dan semangat berhijrah itu sendiri, karena hijrah dalam arti
seperti ini tidak akan pernah berhenti.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, ada seorang yang mendatangi Rasulullha
dan berkata: wahai Rasulullah,s aya baru saja mengunjungi kaum yang
ebrpendapat bahwa hijrah telah telah berakhir, Rasulullah
bersabda:”Sesungguhnya hijrah itu tidak ada hentinya, sehingga terhentinya
taubat, dan taubat itu tidak ada hentinya sehingga matahari terbit dari
sebelah barat”.

Untuk itu, mari kita jadikan makna hijrah dengan semangat menyambut masa
yang akan datang dengan penuh harapan, kita yakin bahwa sehabis gelap akan
terbit terang, setelah kesusahan akan datang kemudahan dan kita yakin
bahwa pagi pasti akan datang walaupun malam terasa begitu lama dan
panjang. Karena roda kehidupan selalu berputar dan tidak mungkin berhenti.
Imam Syafi’i pernah ebrkata:”Memang sebeanrnya zaman itu sugguh
menakjubkan,s ekali waktu engkau akan mengalami keterpurukan, tetapi pada
saat yang lain engkau memperoleh kejayaan”.

Mari kita jadikan peralihan tahun sebagai momen untuk melihat kembali
catatan yang mewarnai perjalanan hidup masa lalu, dengan melakukan
renungan atas apa yang telah kita perbuat. Kita gunakan kesempatan ini
untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup di dunia dan akhirat
kelak, dengan bercermin kepada nilai-nilai dan semangat hijrah dalam
kehidupan beragama dan bermasyarakat, karena sesungguhnya Allah menjadi
pergantian siang dan malam untuk dijadukan pelajaran dan mengungkapkan
rasa syukur, sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Furqan:62:

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang
yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. ”

Oleh Ustadz Muhajirin Abdul Qadir, Lc

Jangan Habiskan Waktu Percuma

21 December 2005

Menjadi produktif bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah. Beberapa orang telah memiliki rencana hari mereka dari mulai terbangun sampai kembali ke tempat tidur, mengatur segala hal dan melakukannya sementara yang lain ada yang hanya memikirkan.
Menurut Mark Goulston, ahli manajemen waktu dan penulis buku *Great Out Of Your Own Way* mengatakan ada beberapa saran yang bisa anda lakukan agar anda dapat memaksimalkan hari-hari penuh dengan produktifitas:

- Membuat daftar dan memprioritaskan
Akhiri malam atau memulai hari anda dengan membuat daftar sesuatu yang
anda harus selesaikan besok hari. Jika ada sesuatu yang lebih penting
dibanding yang lain, yakinlah untuk menyelesaikan lebih dulu. Buat kesehatan anda juga prioritas. Jika ada pilihan antara pergi ke tempat senam atau menunggu beberapa jam untuk menyelesaikan pekerjaan, pergi ke tempat senam. Datang satu jam lebih awal untuk menyelesaikan pekerjaan anda.

- Buat keceriaan
Anda tidak harus menjadi sebuah robot dari waktu ketika anda bangun
untuk menyelesaikan sesuatu, Yakinlah untuk membangun keceriaan dalam
hari-hari anda meskipun sesuatu yang kecil seperti mendengarkan musik,
chatting atau menelpon teman. Anda akan menemukan diri anda jauh lebih
produktif jika anda mengetahui ada penghargaan “kecerian” setelah
menyelesaikan pekerjaan.

- Meminta bantuan
Jangan takut untuk meminta bantuan jika anda sudah mulai kewalahan.
Kita semua kadang-kadang membutuhkan bantuan mengatur hidup kita asalkan
ingat untuk mengembalikannya kembali sesuai kepentingan, jangan sampai
menyalahgunakan hubungan.

- Miliki hari bebas pekerjaan
Ini mungki sekali seminggu atau sekali sebulan ketika anda memutuskan
untuk melakukan satu hari tanpa pekerjaan. Santai, membaca buku, menonton
televis iatau sekedar jalan-jalan. Anda akan merasakan banyak kesegaran
ketika harus berhadapan dengan pekerjaanya hari berikutnya.

- Jangan menangguh-nangguhkan
Mudah sekali untuk menangguh-nangguhkan sesuatu apalagi ketika kita
sudah mulai merasakan kebosanan, carilah alternatif pekerjaan lain yang jauh
lebih mudah sehingga anda tidak menyia-nyiakan waktu.

- Jangan melakukan pekerjaan yang tidak perlu
Jangan biarkan diri anda sibuk untuk hal seperti ini. Jika anda
menghabiskan waktu untuk menyelesaikan tugas yang tidak ada tujuan,
proritaskan kembali pekerjaan-pekerjaan anda. Lebih baik memanfaatkan waktu
untuk bersantai sehingga anda akan lebih berenergi untuk pekerjaan yang
lebih besar.

SanG PemeNang

25 November 2005

Sang pemenang mungkin lahir dari mereka yang kalah tapi tak pernah putus asa.
Ia tak pernah menangisi nasibnya, tak pernah menyesali pilihannya.
Tetap berdiri saat beban terasa semakin berat dan menekan.
Tetap tersenyum sekalipun getir dan pahit membalut hatinya.

lagbest

Ia bertarung bukan untuk mengalahkan.
Ia bertarung untuk menjadikan dirinya,
semakin berkualitas dan memiliki keunggulan.

Sang pemenang tak pernah gentar,
menghadapi angin badai di depan mata.
Karena ia percaya, kekuatan terbesar berada dalam dirinya,
bukan pada badai itu.

Ia tak pernah merasa lebih besar dari yang lainnya.
Tapi dalam hatinya tersimpan semangat,
untuk menjadikan orang lain sama besar dari dirinya.
Bahkan lebih besar lagi.
Hanya dengan demikian ia percaya,
bisa berkembang menjadi yang terbaik.

Sang pemenang tak pernah menyimpan penyesalan,
lebih lama dari tarikan nafasnya sendiri.
Hati dan pikirannya berada di masa depan,
dengan segunung pengalaman di masa lalunya.
Ia tahu benar, masa depan tak pernah peduli
dengan orang-orang yang terjerat kejayaan masa lalunya.
Masa depan hanya memberi ruang nafas bagi sang pemenang.

Sang pemenang sangat memahami,
bahwa setiap hambatan, kesalahan, kekalahan dan kekecewaan
justru menjadi bahan bakar terbaik,
bagi kecepatan dan kekuatannya untuk maju.

Ia tak akan pernah menyalahkan orang lain
dan mencari-cari alasan untuk menjelaskan semua itu.
Ia hanya mau dirinya bangkit sekali lagi.
Hanya sekali lagi, menjadi yang terbaik dalam hidup ini.

***To be A Winner is A Choice not A Gift***

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here